Istilah Lomban oleh
sebagian masyarakat Jepara disebutkan dari kata “lomba-lomba” yang berarti
masyarakat nelayan masa itu bersenang-senang melaksanakan lomba-lomba laut yang
seperti sekarang masih dilaksanakan setiap pesta Lomban, namun ada sebagian
mengatakan bahwa kata-kata lomban berasal dari kata “Lelumban” atau
bersenang-senang. Pesta Lomban merupakan pesta masyarakat nelayan di wilayah
Kabupaten Jepara dalam bentuk sedekah laut. Namun kini sudah menjadi milik
keseluruhan masyarakat Jepara, bukan nelayan saja. Semuanya mempunyai makna yang sama yaitu
merayakan hari raya dengan bersenang-senang setelah berpuasa Ramadhan sebulan
penuh. Yang pasti, bada lomban merupakan momen bagi para nelayan untuk
bersenang-senang dalam merayakan Idul Fitri setelah menunaikan puasa sebulan
penuh. Tidak hanya para nelayan, anak-anak yang tinggal di sekitar pantai
dengan menyeramakkan tersebut dengan menggunakan baju warna-warni. Pesta ini merupakan puncak acara dari Pekan Syawalan yang diselenggarakan
pada tanggal 8 syawal atau 1 minggu setelah hari Raya Idul Fitri dengan
melarung kepala kerbau ke tengah lautan. Pusat perayaan ini berada di Pantai
Kartini, Jepara, namun bisa juga disaksikan di Ujung Gelam, Pantai Koin,
Karimunjawa, pantai bandengan, pantai bondo, serta beberapa tempat yang di
tentukan sebelumnya. Selain bada lomban, dikenal pula bada kupat. Kupat adalah bentuk
tradisional yang tidak asing lagi bagi masyarakat khususnya masyarakat Jawa
Tengah. Secara harfiah, ketupat merupakan jenis makanan yang dibuat dari
pembungkus pelepah daun janur berbentuk hati yang di dalamnya berisi beras yang
sudah matang. Ketupat ini hanyalah merupakan bentuk simbolisasi yang bermakna
hati putih yang dimiliki oleh seseorang yang kembali suci.
Ketupat dalam bahasa Jawa berasal dari singkatan “Ngaku Lepat” yang berarti
mengakui kesalahan. Maknanya, dengan tradisi ketupat diharapkan setiap orang
mau mengakui kesalahan, sehingga memudahkan diri untuk memaafkan kesalahan
orang lain. Singkatnya, semua dosa yang ada akan saling terlebur bersamaan
dengan hari raya idul fitri. Selain itu ketupat mengandung empat makna yakni:
lebar, lebur, luber dan labur. Lebar artinya luas, lebur artinya dosa atau
kesalahan yang sudah diampuni, luber maknanya pemberian pahala yang berlebih,
dan labur artinya wajah yang ceria. Secara keseluruhan bisa dimaknai sebagai
suatu keadaan yang paling bahagia setelah segala dosa yang demikian besar
diampuni untuk kembali menjadi orang yang suci dan bersih. Banyak makna
filosofis yang dikandung dalam makanan ketupat ini. Bungkus yang dibuat dari
janur kuning melambangkan penolak bala bagi orang Jawa. Sebagian masyarakat
juga memaknai rumitnya anyaman bungkus ketupat mencerminkan berbagai macam
kesalahan manusia sedangkan warna putih ketupat ketika dibelah dua mencerminkan
kebersihan dan kesucian setelah mohon ampun dari kesalahan. Beras sebagai isi
ketupat diharapkan menjadi lambang kemakmuran setelah hari raya. Adapun bentuk
ketupat yang persegi, menjadi simbol atau perwujudan cara pandang kiblat papat
lima pancer. Cara pandang itu menegasikan adanya harmonisasi dan keseimbangan
alam: empat arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara yang
bertumpu pada satu pusat. Maknanya, manusia dalam kehidupan, ke arah manapun
dia pergi, hendaknya tidak pernah melupakan pancer yaitu tuhan yang maha Esa.
Selain ketupat, makanan khas di Jepara pada saat pesta lomban adalah lepet.
Lepet adalah makanan
terbuat dari ketan dan kelapa, kadang-kadang ditambahkan dengan kacang tanah,
dibungkus juga dengan janur tetapi cara membungkusnya berbeda degan kupat. Janur dilipat secara memanjang dimana adonan
ketan diletakkan di tengah-tengahnya, kemudian diikat dengan tali bambu secara
melingkar. Lepet memberi makna pertama, "mangga dipun silep ingkan
rapet" (Jawa: mari disimpan/dikubur dengan rapat-rapat). Kedua,
dibungkus menyerupai mayat dan diikat laksana kafan (pembungkus mayat), memberi
makna bahwa ketan itu lengket dan dierat dengan tali persaudaraan, agar
kesalahan tidak menjadi dendam sampai mati. Secara bebas dimaknai dari
Kupat-Lepet ini adalah "Mengakui segala kesalahan dan memohon maaf,
kemudian mengubur kesalahan tersebut dalam-dalam untuk tidak diulangi dengan
hati yang bersih, agar persaudaraan semakin erat, tidak ada dendam hingga ajal
menjelang". Tujuan diadakannya
Pesta Lomban ini sebagai bentuk nyata peran Pemerintah Kabupaten Jepara dalam
melestarikan budaya lokal Jepara, sebagai salah satu bentuk kearifan lokal
Jepara sekaligus event untuk mempromosikan potensi wisata Kabupaten Jepara
khususnya wisata budaya yang dimiliki Kabupaten Jepara.